GURU BESAR ILMU HUKUM "DI GEBUK"


Sudah sekian lama, soal anti NKRI, anti Pancasila atau anti Kebhinekaan menjadi semacam narasi hegemonik yang dipergunakan penguasa untuk "menggebuk" mereka yang coba-coba berpikir, berprilaku, atau bahkan berpendapat yang tak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan atau keindonesiaan yang mereka buat.

Sedikit saja bicara khilafah misalnya, walaupun dalam konteks pengetahuan atau sebuah konsep politik yang perlu dipahami, siap-siap saja suatu saat kena gebuk. Tak tanggung-tanggung, seorang Guru Besar Ilmu Hukum Undip, Prof. Suteki, Sh, Mhum, Dr malah kena "gebuk" institusinya sendiri, konon gara-gara ngomongin khilafah. Benar atau tidaknya, tak perlu jalur hukum yang berlaku, yang penting pecat dulu jangan ragu, karena mereka dianggap belagu.

Saya malah berpikir, apa, siapa, dan bagaimana sebenarnya sikap, pendapat, atau prilaku yang disebut anti Pancasila, anti NKRI atau anti Kebhinekaan itu? Apakah ketika ada mata kuliah sejarah khilafah Islam yang diajarkan di seluruh fakutas adab dan humaniora UIN atau ketika berpendapat bahwa khilafah Islamiyah merupakan suatu alternatif konsep politik atau yang berdemonstrasi membawa bendera bertuliskan kalimat tahlil merekalah yang disebut anti NKRI? Jika Prof Suteki pernah dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang HTI, lalu berpendapat berbeda soal khilafah karena dirinya akademisi, juga termasuk yang anti NKRI? Jangan-jangan, kalo saya nulis mengupas kata "khilafah" didalamnya, suatu saat kena "gebuk" juga ?? 😂😂😂

Bagi saya, penguasa belakangan semakin berlebihan dalam menanggapi beragam perbedaan dalam masyarakat, hanya berlaku sistem "gebuk" atau "seruduk". Tak perlu ada nada peringatan karena rasa sayang, atau memperingati agar berhati-hati, karena itu menunjukkan "kelemahan" tak memperlihatkan "ketegasan".

Para pemegang kuasa, tentu harus perkasa diatas segala-galanya, tak kenal rasa ampun atau toleransi pada rakyatnya. Termasuk para pemegang kuasa di kampus yang juga takut "digebuk" karena kampus mereka ternyata masuk dalam daftar kampus radikal. Daripada dirinya kena "gebuk", lebih baik "menggebuk" guru besar bermasalah yang sudah meresahkan dan mempermalukan para guru besar lainnya. Tak ada toleransi untuk anti NKRI, begitu katanya.

Narasi seputar radikalisme, anti Pancasila dan NKRI tampak merebak sedemikian rupa, membuat semakin meruncingnya opini publik, saling curiga dan saling tuding bahwa kelompok merekalah yang paling NKRI atau paling Pancasila, sedangkan kelompok lainnya tidak. Bahkan sampai ada ucapan keluar, "jika anda tak suka NKRI, anda cari saja negara lain yang mau menampung anda!".

Entah siapa yang dimaksud oleh kalimat ini, hingga harus mempersilahkan bangsa sendiri minggat dari negerinya tercinta. Lalu, sejauh mana anda cinta NKRI? Hanya bendera yang dipuja-puja? Atau simbol lainnya yang selalu dipertontonkan? Bukankah cinta NKRI adalah mereka yang peduli, memberikan hal yang bermanfaat, membantu sesama, toleransi, saling menjaga, dsb

NKRI bagi saya tak sebatas narasi atau simbolisasi, karena ia lahir dari serangkaian adat, budaya, dan agama yang hidup turun temurun dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Kecintaan terhadap NKRI bukan basa-basi, tapi implementasi atas seluruh adat istiadat dan budaya, menyatu dalam jiwa setiap anak bangsa. Janganlah terburu-buru menggebuk, karena negeri ini tak mewarisi hukum rimba, tapi hukum yang mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Saya khawatir, ketegasan penguasa yang tebang pilih, ditiru kemudian oleh mereka yang juga tebang pilih dalam menegakkan hukum rimba, kepada pihak mana itu diberlakukan. Pada akhirnya, kekhawatiran akan fenomena "circle of violence" benar-benar nyata, bangga dengan memodifikasi hukum rimba.

Saya tak pernah mengenal Prof Suteki, walaupun saya salut dengan gelar akademiknya yang menunjukkan ia seorang gigih dalam menempuh setiap jenjang pendidikannya.

Untuk dapat mencapai jenjang guru besar tidaklah sembarangan, butuh fakta akademis yang diakui bermanfaat bagi umat, tak hanya di negeri sendiri karena harus juga bermanfaat di negeri orang.

Upaya puluhan tahun meraih gelar akademik, kini tiba-tiba tak berguna ketika dirinya dicap sebagai anti NKRI, radikal, atau terindikasi ideologi berbahaya. Apakah tiba-tiba seluruh kebaikannya, hasil risetnya, keberadaannya yang memberikan dampak manfaat kepada masyarakat, hancur lebur ditengah labelisasi anti NKRI yang dilekatkan pihak kampus pada dirinya?

Dunia kampus yang bebas dari beragam ideologi, tempat paling luas mengekspresikan setiap gagasan, mencari pengetahuan, berinovasi, berkreasi, lambat laun tak akan ada lagi. Kampus-kampus besar yang dulu dikenal melahirkan para pemimpin bangsa, kini hanya seonggok bangunan yang distigmatisasi masyarakat sebagai sekolahan radikal.

Ah, ajang kontestasi politik nasional ternyata membuat banyak pihak ketakutan bahkan panik, khawatir jatah kekuasaannya direbut orang atau pihak lain. Itulah kenapa aktivitas "gebuk-menggebuk" nampaknya juga populer belakangan, tak hanya antar politisi, pendukung, atau relawan politik, mereka yang satu agama pun sepertinya dengan sadar terus menerus mempraktikkan cara "gebuk-menggebuk" yang baik.

Yang muncul pada akhirnya nuansa kompetitif yang tak pernah sehat, kecurangan disana-sini, saling tuding dimana-mana, dan para penguasa pun ikut terlena turut menegakkan jalannya pemerintahan dengan cara "menggebuk". Cobalah bayangkan, ketika orang tua terus-terusan "menggebuki" anaknya, tunggu beberapa tahun dampaknya.

Wallahu a'lam.

Malang, 12 Juli 2018

Komentar

Postingan Populer