HABIB RIZIEQ SHIHAB DAN FRONT PEMBELA ISLAM
Yudit Kandhias S.
Kehadiran Habib Rizieq dan gerakannya FPI telah menjadikan arena perang pemikiran di bumi Indonesia semakin sengit, ketika dulu umat Islam hanya dijadikan objek dari permainan penguasa dan para mafia tanpa perlawanan apapun, kini tampil dengan perlawanan yang kuat dan pertahanan yang kokoh, Lantang dan tegas dalam memberantas setiap penyimpangan dan berani melawan siapapun orang atau kelompok yang berkepentingan dangan penyimpangan tersebut.
Lebih dari itu, ketegasan Habib adalah ketegasan yang proporsional, keberaniannya pun adalah keberanian yang penuh dengan kesadaran. Begitu juga gerakannya adalah gerakan yang tidak hanya tersulut oleh semangat keislaman semata, namun juga dilandasi oleh pemikiran dan keilmuan. Ia adalah gerakan ahlus sunnah yang sadar akan keutuhan, kekuatan dan pembelaan umat Islam.
Maka tidak salah kalau Habib Rizieq dan gerakannya akan terus menjadi sasaran para mafia di arena perang pemikiran. Habib Rizieq dan gerakannya akan diperlakukan layaknya seperti sebuah atom, yang akan dileburkan dan dihancurkan menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Atau mungkin seperti sebuah kertas yang akan dirobek-robek kemudian dibuang begitu saja.
Menurut pakar perang pemikiran Malik Bin Nabi, para tokoh Islam akan berusaha dijauhkan dari masyarakatnya, sebagai upaya untuk menjaukan pengaruh pemikiran atau idiologi yang dibawanya. Baik dengan cara diasingkan, dipenjara, bahkan dibunuh sekalipun.
Sejarah perang pemikiran mencatat penerapan strategi di atas, terjadi pada Afghani dan Abduh yang diasingkan, Alkawakibi yang diracun, Attibissy dan Al Banna yang ditikam, Umar Mukhtar dan Sayyid Qutb yang digantung..dll.
Selain itu para pejuang Islam akan selalu dikondisikan untuk memperjuangkan kebenarannya secara personal, seorang diri, dipisahkan dari gerakannya, kemudian gerakannya dipecah belah, atau dibenturkan dengan kekuatan lainnya hingga mudah untuk dilibas dan dibekukan.
Namun kelompok para pembenci kaum islamis lupa bahwa ketika dimatikannya Sang Tokoh pergerakan, maka itu adalah awal dari kehidupan pemikirannya dalam jiwa para pengikutnya.
Betapa banyak dari para musuh-musuh gerakan Islam, yang telah berhasil membunuh para tokoh dan pemikir gerakan Islam, akan tetapi mereka gagal mematikan pemikirannya. Sejarah membuktikan bagaimana Ikhwanul muslimin semakin menjamur pesat pasca dibunuhnya Imam Hasan Al Banna.
Strategi perang pemikiran yang diterapkan oleh para pembenci kaum Islamis di atas setidaknya harus mendorong umat Islam agar senantiasa merapat, membela, dan menguatkan para tokoh-tokoh Islam—yang berjuang membela agama Islam dan umatnya.
Wallahu ‘alam Bisshowwab.



Komentar
Posting Komentar